Kurang lebih pukul 02.30 dinihari, terdengar suara azan yang dikumandangkan. Benar, bagi ”masyarakat” PUTM, azan itu sebagai pertanda untuk memulai aktivitas hari itu. Ketika orang tengah terbuai dengan lamunannya dan ditambah dengan dinginnya subuh Kaliurang yang semakin menambah semangat mereka untuk lebih merangkul erat bantal mereka serta selimut yang semakin merapat ke tubuhnya sehingga memberikan kehangatan bagi mereka, berbeda dengan para penghuni ”Al-Hamidi Castle”. Para penghuninya malah bercengkrama dengan dinginnya suhu Kaliurang yang menusuk sampai ke tulang-tulang sambil bermunajat dan berdialog dengan Tuhan-Nya, Rabb sekalian alam. Sudah terbayang di benak kita semua bahwa yang menjadi aktivitas awal mereka adalah shalat tahajjud.
Di sisi lain, dari bangunan sebelah timur Masjid Taqwa, keluarlah seorang laki-laki, tepatnya seorang manusia yang telah uzur, yang walaupun dalam usianya yang sudah ”kepala enam” itu, beliau masih terlihat gagah mengayunkan kakinya menuju ke masjid. Walau sesekali kelihatan terhuyung-huyung, beliau masih tetap semangat untuk memimpin shalat tahajjud yang telah menjadi rutinitas bahkan telah menjadi budaya di PUTM, sejak lembaga pendidikan ini didirikan sampai sekarang.
Merupakan pemandangan yang sangat fenomenal, ketika seorang yang tengah melawan penyakit gagal ginjal yang dideritanya serta penyakit-penyakit lain yang sering menderanya masih tetap konsisten dengan amanah yang beliau pegang sebagai mudir PUTM. Justru disinilah letak keluarbiasaannya. Bukan hanya memimpin shalat tahajjud yang menjadi tugas mudir, tetapi mengajar, membuat kebijakan, serta masih banyak lagi tugas-tugas yang beliau lakoni sebagai orang nomor satu, yang paling bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan di PUTM, yang mana jelas menghabiskan energi dan stamina yang tidak sedikit.
Muncul pertanyaan besar. Siapakah sosok manusia yang disinggung di atas? Namanya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Beliau adalah KH. MS. Ibnu Juraimi. Sosok yang begitu dikenal di masyarakat luas, karena beliau telah menginfakkan keseluruhan hidupnya di jalan Allah, dengan berdakwah hampir di seluruh pelosok-pelosok daerah di Indonesia. Beliau telah malang melintang di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian dan terlebih lagi di pulau Jawa.
Pahit getir kehidupan beliau telah lalui dan rasakan serta berbagai macam pelajaran hidup yang telah beliau dapatkan tentunya. Hanya saja, beliau tidak kemudian ingin merasakannya sendiri. Dengan menjadi Mudir di PUTM, beliau berusaha sedapat mungkin untuk mentransformasikan ilmu yang beliau telah dapatkan, serta membagikan pengalaman yang beliau dapatkan selama melakukan ”pengembaraan” dakwah yang hampir menyentuh seluruh nusantara. Dari sinilah proses pendidikan itu berlangsung.
Kita ketahui bersama bahwa PUTM adalah salah satu lembaga pendidikan Muhammadiyah yang memiliki sistem pendidikan yang amat berbeda dengan Perguruan-perguruan Tinggi lainnya bahkan dengan Perguruan-Perguruan Tinggi Muhammadiyah lainnya, antara lain dari segi kurikulum, schedule belajar dan mengajar, apalagi dari sistem pembinaan yang ”dianutnya”, yaitu mensinergikan antara nilai-nilai spiritualitas, nilai-nilai intelektualitas dan emosionalitas. Dan memang seperti inilah PUTM harus dikelola, sebab PUTM is PUTM. Nilai-nilai spiritualitas terbukti dengan adanya pengwajiban shalat tahajjud dan puasa sunnat Senin-Kamis. Nilai-nilai intelektualitas terbukti dengan adanya proses belajar-mengajar yang diselenggarakan di PUTM, bahkan ”melebihi” porsi belajar-mengajar pada umumnya. Nilai-nilai emosionalitasnya terbina dengan diterapkannya sistem pemondokan, yang tentunya memungkinkan terjadinya interaksi yang panjang antara Thalabah yang satu dengan Thalabah lainnya. Belum lagi adanya budaya kerja bakti setiap hari Ahad, yang merupakan salah satu media untuk menghimpun para thalabah dalam satu kesatuan kerja, dan masih banyak lagi sarana yang mempersatukan mereka dalam satu kesatuan, yang tentunya memungkin bagi mereka untuk bisa saling mengerti antara satu dengan lainnya. Kalau sekiranya ada diantara mereka yang tidak memiliki kecerdasan emosi atau minimal kecerdasan emosionalnya rendah, maka tentunya peluang-peluang terjadinya konflik internal-horizontal akan semakin besar. Hanya saja, karena telah disinggung sebelumnya bahwa dalam penyelenggaraan pendidikan di PUTM diterapkan sistem pensinergian yang meliputi tiga komponen dasar, yaitu Spiritual, Intelektual dan Emosional, maka kemungkinan-kemungkinan buruk itu bisa diminimalisir, bahkan dihilangkan sama sekali.
Dari kesemua uraian di atas, maka kita bisa merujuk kepada satu sosok yang paling bertanggung jawab atas penyelenggaraan pendidikan di PUTM. Sosok yang tentunya juga paling luas lahan garapannya, sebab mencakup wilayah spiritual, intelektual dan emosional. Siapa lagi kalau bukan Ust. KH. MS. Ibnu Juraimi, orang nomor satu di PUTM. Bagaimana ketika beliau memimpin shalat tahajjud dan shalat-shalat fardhu, bagaimana ketika beliau mengajarkan Hadis, Tafsir, Mutammimah dan sebagainya di ruang kelas (untuk sekarang masih menggunakan masjid), bagaimana ketika beliau mengisi para thalabah dengan kisah-kisah yang membangun jiwa, serta sederet pelajaran-pelajaran lain yang tentunya bisa meningkatkan kecerdasan emosional para tholabah yang memang pada dasarnya harus senantiasa diberikan injeksi-injeksi yang seperti itu.
Walaupun terlalu banyak perbedaan yang cukup tajam antara sistem yang diterapkan di PUTM dengan apa yang ada di Perguruan Tinggi lainnya, namun tidak terlalu mempengaruhi kualitas para jebolannya. Yang apabila kalau ingin dikaji lebih jauh lagi, maka para jebolan PUTM memang dipersiapkan untuk terjun langsung ke medan dakwah yang riil, yang tentunya tidak ringan untuk dilalui. Dan untuk mempersiapkan orang-orang yang kuat dalam setiap medan dakwah, maka dibutuhkan pula sebuah sistem yang bisa mencetak orang-orang yang seperti itu. Salah satu lembaga yang mempunyai sistem seperti itu adalah Pendidikan U’lama Tarjih Muhammadiyah (PUTM).
Sekali lagi, bila ingin merujuk sebuah nama, maka kita akan kembali tertuju kepada nama orang yang paling bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan di PUTM. Dialah Ust. KH. Ibnu Juraimi.
Makanya, pantaslahlah jika tulisan saya kali ini mengambil judul ”KH. MS. Ibnu Juraimi, Pendidik yang Mendidik”. Karena beliau adalah tokoh inspirator, pemberi inspirasi yang amat signifikan pada setiap laju roda pendidikan di lembaga Pendidikan U’lama Tarjih Muhammadiyah yang tercinta.
Satu hal yang ingin penulis rasakan pada akhir perjalanannya menempuh pendidikan di PUTM, yaitu: Penulis ingin diluluskan oleh KH. Ibnu Juraimi ketika penulis telah menggenapkan pendidikannya di PUTM selama empat tahun. Insya Allah. Wallahu A’lam Bisshawab []
Tulisan ini saya dedikasikan kepada seorang anak manusia yang dikaruniai oleh Allah Swt. sebuah kemampuan untuk memanusiakan manusia.
Di sisi lain, dari bangunan sebelah timur Masjid Taqwa, keluarlah seorang laki-laki, tepatnya seorang manusia yang telah uzur, yang walaupun dalam usianya yang sudah ”kepala enam” itu, beliau masih terlihat gagah mengayunkan kakinya menuju ke masjid. Walau sesekali kelihatan terhuyung-huyung, beliau masih tetap semangat untuk memimpin shalat tahajjud yang telah menjadi rutinitas bahkan telah menjadi budaya di PUTM, sejak lembaga pendidikan ini didirikan sampai sekarang.
Merupakan pemandangan yang sangat fenomenal, ketika seorang yang tengah melawan penyakit gagal ginjal yang dideritanya serta penyakit-penyakit lain yang sering menderanya masih tetap konsisten dengan amanah yang beliau pegang sebagai mudir PUTM. Justru disinilah letak keluarbiasaannya. Bukan hanya memimpin shalat tahajjud yang menjadi tugas mudir, tetapi mengajar, membuat kebijakan, serta masih banyak lagi tugas-tugas yang beliau lakoni sebagai orang nomor satu, yang paling bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan di PUTM, yang mana jelas menghabiskan energi dan stamina yang tidak sedikit.
Muncul pertanyaan besar. Siapakah sosok manusia yang disinggung di atas? Namanya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Beliau adalah KH. MS. Ibnu Juraimi. Sosok yang begitu dikenal di masyarakat luas, karena beliau telah menginfakkan keseluruhan hidupnya di jalan Allah, dengan berdakwah hampir di seluruh pelosok-pelosok daerah di Indonesia. Beliau telah malang melintang di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian dan terlebih lagi di pulau Jawa.
Pahit getir kehidupan beliau telah lalui dan rasakan serta berbagai macam pelajaran hidup yang telah beliau dapatkan tentunya. Hanya saja, beliau tidak kemudian ingin merasakannya sendiri. Dengan menjadi Mudir di PUTM, beliau berusaha sedapat mungkin untuk mentransformasikan ilmu yang beliau telah dapatkan, serta membagikan pengalaman yang beliau dapatkan selama melakukan ”pengembaraan” dakwah yang hampir menyentuh seluruh nusantara. Dari sinilah proses pendidikan itu berlangsung.
Kita ketahui bersama bahwa PUTM adalah salah satu lembaga pendidikan Muhammadiyah yang memiliki sistem pendidikan yang amat berbeda dengan Perguruan-perguruan Tinggi lainnya bahkan dengan Perguruan-Perguruan Tinggi Muhammadiyah lainnya, antara lain dari segi kurikulum, schedule belajar dan mengajar, apalagi dari sistem pembinaan yang ”dianutnya”, yaitu mensinergikan antara nilai-nilai spiritualitas, nilai-nilai intelektualitas dan emosionalitas. Dan memang seperti inilah PUTM harus dikelola, sebab PUTM is PUTM. Nilai-nilai spiritualitas terbukti dengan adanya pengwajiban shalat tahajjud dan puasa sunnat Senin-Kamis. Nilai-nilai intelektualitas terbukti dengan adanya proses belajar-mengajar yang diselenggarakan di PUTM, bahkan ”melebihi” porsi belajar-mengajar pada umumnya. Nilai-nilai emosionalitasnya terbina dengan diterapkannya sistem pemondokan, yang tentunya memungkinkan terjadinya interaksi yang panjang antara Thalabah yang satu dengan Thalabah lainnya. Belum lagi adanya budaya kerja bakti setiap hari Ahad, yang merupakan salah satu media untuk menghimpun para thalabah dalam satu kesatuan kerja, dan masih banyak lagi sarana yang mempersatukan mereka dalam satu kesatuan, yang tentunya memungkin bagi mereka untuk bisa saling mengerti antara satu dengan lainnya. Kalau sekiranya ada diantara mereka yang tidak memiliki kecerdasan emosi atau minimal kecerdasan emosionalnya rendah, maka tentunya peluang-peluang terjadinya konflik internal-horizontal akan semakin besar. Hanya saja, karena telah disinggung sebelumnya bahwa dalam penyelenggaraan pendidikan di PUTM diterapkan sistem pensinergian yang meliputi tiga komponen dasar, yaitu Spiritual, Intelektual dan Emosional, maka kemungkinan-kemungkinan buruk itu bisa diminimalisir, bahkan dihilangkan sama sekali.
Dari kesemua uraian di atas, maka kita bisa merujuk kepada satu sosok yang paling bertanggung jawab atas penyelenggaraan pendidikan di PUTM. Sosok yang tentunya juga paling luas lahan garapannya, sebab mencakup wilayah spiritual, intelektual dan emosional. Siapa lagi kalau bukan Ust. KH. MS. Ibnu Juraimi, orang nomor satu di PUTM. Bagaimana ketika beliau memimpin shalat tahajjud dan shalat-shalat fardhu, bagaimana ketika beliau mengajarkan Hadis, Tafsir, Mutammimah dan sebagainya di ruang kelas (untuk sekarang masih menggunakan masjid), bagaimana ketika beliau mengisi para thalabah dengan kisah-kisah yang membangun jiwa, serta sederet pelajaran-pelajaran lain yang tentunya bisa meningkatkan kecerdasan emosional para tholabah yang memang pada dasarnya harus senantiasa diberikan injeksi-injeksi yang seperti itu.
Walaupun terlalu banyak perbedaan yang cukup tajam antara sistem yang diterapkan di PUTM dengan apa yang ada di Perguruan Tinggi lainnya, namun tidak terlalu mempengaruhi kualitas para jebolannya. Yang apabila kalau ingin dikaji lebih jauh lagi, maka para jebolan PUTM memang dipersiapkan untuk terjun langsung ke medan dakwah yang riil, yang tentunya tidak ringan untuk dilalui. Dan untuk mempersiapkan orang-orang yang kuat dalam setiap medan dakwah, maka dibutuhkan pula sebuah sistem yang bisa mencetak orang-orang yang seperti itu. Salah satu lembaga yang mempunyai sistem seperti itu adalah Pendidikan U’lama Tarjih Muhammadiyah (PUTM).
Sekali lagi, bila ingin merujuk sebuah nama, maka kita akan kembali tertuju kepada nama orang yang paling bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan di PUTM. Dialah Ust. KH. Ibnu Juraimi.
Makanya, pantaslahlah jika tulisan saya kali ini mengambil judul ”KH. MS. Ibnu Juraimi, Pendidik yang Mendidik”. Karena beliau adalah tokoh inspirator, pemberi inspirasi yang amat signifikan pada setiap laju roda pendidikan di lembaga Pendidikan U’lama Tarjih Muhammadiyah yang tercinta.
Satu hal yang ingin penulis rasakan pada akhir perjalanannya menempuh pendidikan di PUTM, yaitu: Penulis ingin diluluskan oleh KH. Ibnu Juraimi ketika penulis telah menggenapkan pendidikannya di PUTM selama empat tahun. Insya Allah. Wallahu A’lam Bisshawab []
Tulisan ini saya dedikasikan kepada seorang anak manusia yang dikaruniai oleh Allah Swt. sebuah kemampuan untuk memanusiakan manusia.
Kaliurang, di bawah tempat jemur pakaian thalabah PUTM
2 Rabi’ul Awwal 1429 H/10 Maret 2008
2 Rabi’ul Awwal 1429 H/10 Maret 2008

Subhanallah, ..
BalasHapusTerjawablah sudah satu pertanyaan di hati ..
Maturnuwun saudaraku, ..