Jumat, 14 Januari 2011

Bernard Arnault

Bernard Arnault
Gigih dan berani mengambil risiko itulah yang menjadi kunci kesuksesan Bernard Arnault. Lelaki di balik nama-nama merek terkenal dan mewah itu merupakan CEO MoEt Hennessy Louis Vuitton (LVMH). Meski tumbuh di dunia properti, tapi ilmu penjualan dan mengambil risiko menjadikannya bisa juga menjalankan dunia yang di luar perhitungannya.

Arnault tumbuh di Roubaix, Perancis. Setelah lulus dari Politeknik Ecole, ia bekerja sebagai ahli teknik. Ia juga menjalankan perusahaan konstruksi dan properti milik keluarganya yang bernama Ferret-Savenil. Hanya dalam waktu satu tahun, ia mempelopori perubahan di dalam perusahaan sehingga menghasilkan keuntungan besar untuk perusahaan.

Sayangnya kondisi politik negara membuatnya harus hengkang dari Perancis. Di tahun 1981 Arnault berimigrasi ke Amerika Serikat (AS) bersama istri dan dua anaknya. Di negara baru itu, ia melanjutkan usaha keluarga dan membangun kondominium di Palm Beach, Florida. Setelah mereda, ia pun kembali ke kampung halaman.

Kesempatan besar datang saat pemerintah Perancis mencari orang yang bisa menangani kerajaan tekstil yang bangkrut, Boussac. Kerajaan tekstil itu memiliki beberapa bisnis, termasuk popok sekali pakai dan butik Christian Dior.

Seorang kawannya bernama Antoine Bernheim bekerja di lembaga keuangan pemberi pajak, Lazard Feres. Ia mendorong Arnault kemudian merogoh kocek pribadinya dan bisa mendapatkan 15 juta dolar AS. Lazard memberikan kredit senilai 80 juta dolar AS untuk membeli perusahaan tekstil itu.

Nekat memang. Tapi alasan utama Arnault melakukan hal itu adalah butik Christian Dior. Butik tersebut berpotensi mengeruk keuntungan dari borjuis yang senang berbelanja di supermarket barang-barang mewah.

Setelah mendapatkan Boussac, Arnault dengan cepat melakukan ekspansi Christian Dior dengan menggunakan nama baru seperti Rumah mode Christian Lacroix dan Celine . Sebuah nama rumah mode yang dikenal dengan produk khusus kulit.

Arnault menyadari bahwa artistik sangat penting. Maka ia pun mengontrak John Galliano sebagai desainer yang dikenal dengan kreasinya yang tidak biasa. Produk utamanya adalah haute couture.

Sebagai CEO, Arnault memang unik. Ia menggabungkan kreativitas dan aspek keuangan dalam menjalankan bisnisnya. Meski ia tidak pernah membatasi inovasi, tapi untuk masalah keuangan, ia sangat disiplin. Termasuk jika terkait produksi, pemasaran, promosi, dan penjualan produk.

Selain itu, karena sadar jika kreativitas bisa menghasilkan dan harus dikomersialisasikan, maka ia tak segan memecat dua orang penting di perusahaannya dengan alasan tidak kreatif. Mereka adalah kepala divisi parfum Christian Dior dan manajer Givenchy.

John Willard Marriot Jr


Sebagai pengantin baru, John Willard Marriot Sr dan Alice Sheets Marriot mencoba mencari penghidupan lebih baik. Tahun 1922 mereka pindah dari Utah ke Washington DC. Lima tahun kemudian, mereka meluncurkan kafe mungil dengan sembilan kursi dari modal pinjaman 6.000 dolar AS bernama Hot Shoppe. Siapa sangka jika tempat yang mungil itu menjadi raksasa hotel, yakni Hotel Marriot, berpuluh tahun kemudian?

Di tengah kerja keras orang tuanya membangun usaha itulah John Willard Marriot Jr lahir. Semasa kecil Marriot Jr ditempa menjadi orang yang gemar berusaha. Setiap minggu ia bertugas menyemir sepatu ayahnya sebelum ke gereja. Dari ayahnya ia belajar kesempurnaan kerja, harus tuntas dan tidak memiliki cela. Saat berusia 14 tahun di 1941, Marriot Jr dianggap sudah cukup besar untuk belajar bisnis keluarga. Ia diserahi mengurus administrasi. Dia tergolong anak yang cepat belajar.

Marriot Jr tetap bekerja di Hot Shoppes saat menimba ilmu di sekolah bergengsi St Albans Prep School. Ia tetap memasak burger, mencuci piring, dan mengepel lantai. Setelah mendapatkan gelar sarjana di bidang perbankan dan keuangan pada 1954, ia bergabung bersama US Naval Reserves.

Dua tahun kemudian ia bergabung kembali dengan orang tuanya yang sudah meluaskan usahanya sebagai penyedia makanan di rumah sakit, sekolah, juga tempat istirahat di jalan tol. Ayahnya kemudian membangun Twin Bridges Motor Hotel di Arlington, Virginia yang menjadi titik terpenting dalam kehidupan Marriot Jr.

Karena keinginannya yang kuat untuk memiliki usaha sendiri, ia meminta izin ayahnya untuk diberi kesempatan mengelola hotel. Marriot Sr setuju dan menantang anaknya untuk memutar roda bisnis perhotelan. Sebuah hotel perdana ia bangun dengan mengontrak arsitek dan kontraktor.

Pada 1964, Marriot Sr menunjuk puteranya yang kala itu berusia 32 tahun sebagai Presdir Marriot Hot-Shoppes. Dalam kurun tiga tahun, Marriot Jr membawa perusahaan ke tingkat Internasional melalui rekanan maskapai penerbangan sebagai pengelola katering di Venezuela dan mengembangkan usaha restoran. Di usia 40 tahunnya, perusahaan berganti nama menjadi Marriot Corporation.

Marriot Jr menggantikan ayahnya pada 1972. Ia kemudian mewujudkan impiannya dengan mengakuisisi beragam bisnis. Di awal 1980-an ia berhasil membawa perusahaan menjadi salah satu pengembang real estate terbesar dunia.

Pengembangan hotelnya merambah ke berbagai negara. Dengan membuka dua hotel baru setiap pekan, menjadikan Marriot Corporation sebagai perusahaan dengan jejaring terbesar dunia. Kini, Marriot Jr menikmati hasil kerjanya dengan berkeliling ke negara-negara di mana hotel Marriot berdiri.

John Maynard Keynes

John Maynard Keynes
Pernyatan itu hingga kini masih popular dan kerap kali dikutip para ekonom. Si empu kalimat itu tak lain adalah John Maynard Keynes. Dia dikenal sebagai salah satu pendiri utama teori makroekonomi. Keynes adalah ekonom berkebangsaan Inggris yang memiliki pengaruh besar bagi teori politik dan ekonomi medern. Hasil pemikirannya sering digunakan adalah kebijakan fiskal.

Ekonom terkemuka itu lahir di Jalan Harvey 6, Cambridge, Inggris. Kiprah Keynes di dunia ekonomi tampaknya banyak dipengaruhi sang ayah. Sebab, dialah anak dari John Neville Keynes, seorang dosen ekonomi di Universitas Cambridge. Keynes juga dikenal sebagai pria bertubuh tinggi, yakni 198 cm.

Pada 1902, Keynes masuk ke King’s College, Cambridge, untuk mempelajari matematika. Meski begitu, ia lebih tertarik pada politik. Itu pula yang kemudian membawanyapada bidang ekonomi, sebagaimana memang diusulkan dosennya kemudian, setelah melihat minatnya.

Pada 1905, Keynes sudah meraih gelar BA, dan empat tahun kemudian MA pun diraihnya. Karier pertamanya adalah menjadi dosen di tempat sang ayah mengabdi, yakni Cambridge.

Mulai tahun 1942, nama Keynes telah diakui sebagai ekonom tersohor, lewat buku yang melambungkan namanya, The General Theory of Employment, Interest, and Money. Hingga kini, teori-teori dan pengaruhnya di bidang ekonomi masih sangat kuat mewarnai perekonomian.